Artikel · Biografi

Cara Menulis Biografi Keluarga: Panduan Lengkap

Delapan langkah runtut dari menentukan tujuan, wawancara keluarga, menyusun bab, sampai siap cetak, lengkap dengan contoh pertanyaan wawancara.

· 5 menit baca · Tim Scriptza

Biografi keluarga adalah hadiah yang nilainya bertambah setiap tahun. Cerita tentang kakek yang merantau, nenek yang membesarkan tujuh anak di masa sulit, atau orang tua yang merintis usaha dari nol akan hilang bersama generasinya kalau tidak dituliskan. Kabar baiknya, Anda tidak perlu menjadi penulis untuk memulainya. Yang dibutuhkan adalah langkah yang runtut.

1. Tentukan tujuan dan pembacanya

Sebelum mengumpulkan bahan, jawab dua pertanyaan: buku ini untuk siapa, dan apa yang ingin mereka rasakan setelah membacanya? Buku untuk cucu-cucu biasanya hangat dan penuh cerita sehari-hari. Buku kenangan untuk acara 80 tahun seorang tokoh keluarga lebih banyak memuat perjalanan hidup dan kesan orang-orang terdekat. Tujuan ini akan menuntun semua keputusan berikutnya, dari panjang buku sampai foto mana yang dimuat.

2. Batasi cakupan cerita

Kesalahan paling umum adalah ingin memasukkan semua orang dan semua kejadian. Pilih salah satu bentuk:

Cakupan yang jelas membuat buku lebih enak dibaca dan jauh lebih mungkin selesai.

3. Kumpulkan bahan lewat wawancara

Sumber terbaik biografi keluarga adalah ingatan orang yang masih ada. Jadwalkan beberapa sesi wawancara pendek, sekitar 60 sampai 90 menit, daripada satu sesi panjang yang melelahkan. Rekam suaranya dengan izin, supaya Anda bisa fokus mendengarkan.

Gunakan pertanyaan terbuka yang memancing cerita, bukan jawaban "ya" atau "tidak". Beberapa contoh:

Lengkapi wawancara dengan bahan lain: foto lama, surat, ijazah, akta, catatan harian, dan cerita dari saudara atau teman lama. Satu foto yang ditunjukkan saat wawancara sering membuka kenangan yang tidak muncul lewat pertanyaan biasa.

4. Susun linimasa dan kerangka bab

Setelah bahan terkumpul, tuliskan linimasa sederhana: tahun, peristiwa, tempat, dan orang yang terlibat. Dari linimasa ini, pilih salah satu cara menyusun bab:

Untuk buku keluarga, delapan sampai lima belas bab biasanya sudah cukup. Beri tiap bab satu pertanyaan inti yang akan dijawab, supaya isinya tidak melebar.

5. Pilih sudut pandang penceritaan

Ada dua pilihan yang lazim. Sudut pandang orang pertama ("Saya lahir di sebuah desa di lereng Gunung Wilis...") terasa akrab, seolah sang tokoh bercerita langsung kepada cucunya. Pilihan ini cocok bila bahan wawancaranya kaya. Sudut pandang orang ketiga ("Beliau lahir di...") lebih leluasa untuk memasukkan kesan orang lain dan peristiwa yang tidak diingat sang tokoh. Apa pun pilihannya, pakai secara konsisten dari bab pertama sampai terakhir.

6. Tulis dengan adegan, bukan daftar fakta

Bandingkan dua kalimat ini. "Kakek pindah ke Surabaya pada 1968." Dengan: "Subuh itu, Kakek naik kereta dari Madiun hanya membawa satu tas kain dan uang pinjaman dua puluh rupiah." Kalimat kedua membuat pembaca ikut berada di sana. Pilih beberapa momen penting di setiap bab lalu ceritakan sebagai adegan: di mana, kapan, siapa, apa yang terdengar dan terasa.

Masukkan kutipan langsung dari wawancara. Ungkapan khas, logat, atau candaan sang tokoh adalah bagian paling berharga, karena itulah yang membuat pembaca berkata, "Ini benar-benar Bapak."

7. Periksa fakta dan hormati privasi

Ingatan manusia bisa keliru soal tahun dan nama. Cocokkan tanggal dengan dokumen, dan tanyakan ulang kepada anggota keluarga lain bila ada perbedaan. Untuk kisah yang sensitif, seperti konflik keluarga, penyakit, atau masalah keuangan, minta persetujuan orang yang bersangkutan sebelum dicetak. Biografi keluarga seharusnya mempererat hubungan, bukan membuka luka lama.

8. Sunting, tata letak, lalu cetak

Setelah naskah selesai, endapkan beberapa hari lalu baca ulang dengan suara keras. Bagian yang terasa berbelit biasanya perlu dipendekkan. Minta satu atau dua anggota keluarga membaca dan memberi masukan. Setelah itu naskah ditata letak, diberi sampul, dan dicetak. Sebagai gambaran, naskah 25.000 kata biasanya menjadi buku ukuran A5 sekitar 100 halaman, tergantung ukuran huruf dan jumlah foto.

Kesalahan yang sering terjadi

Mulai dari langkah kecil

Minggu ini, cukup lakukan satu hal: jadwalkan wawancara pertama dan siapkan lima pertanyaan. Dari sana, cerita akan mengalir. Kalau Anda ingin bahannya lebih terarah, formulir wawancara buku Scriptza berisi pertanyaan yang bisa dipakai sebagai panduan.

← Semua artikel